Pendidikan dan Kesetaraan Gender

Pendidikan dan Kesetaraan Gender

Pendidikan dan Kesetaraan GenderTidak bisa dipisahkan antara kesetaraan gender di dalam dunia pendidikan dengan kesetaraan gender di dalam masyarakat. Apa yang ada di dalam dunia pendidikan merupakan gambaran dari pemikiran gender di masyarakat. Bagaimana masyarakat mengirimkan anak mereka ke sekolah, dilataberlakangi juga oleh pemikiran orang tua tersebut di masyarakat.
Pendidikan dan Kesetaraan Gender
Pendidikan dan Kesetaraan Gender
Pendidikan merupakan Hak Asasi Manusia. Pendidikan yang tidak diskriminatif akan menguntungkan, baik bagi perempuan maupun laki-laki, yang pada akhirnya akan mempermudah terjadinya kesetaraan dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki. Gender sebagaimana didefinisikan secara umum adalah pembedaan peran dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki sebagai hasil konstruksi sosial budaya masyarakat . Tataran bias gender banyak terjadi dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Misalnya peran gender terjadi dalam hal mengakses lembaga pendidikan yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi perempuan.

Allah mewajibkan hambanya untuk memperoleh pendidikan yang tinggi, tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh pendidikan. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba ideal. Hamba ideal dalam hal ini adalah bahwa prestasi individual, baik dalam bidang spiritual maupun karier profesional, tidak mesti didominasi oleh satu jenis kelamin saja. Peluang untuk meraih prestasi maksimum dalam pendidikan terbuka lebar untuk dua insan tersebut. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya dihadapan Allah sang Pencipta . Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Hujurat (49:13) 

sebagai berikut yang artinya;
“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”


Banyak laki-laki mengatakan, sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Mereka haruslah sosok kuat, tidak cengeng, dan perkasa. Ketika seorang anak laki-laki diejek, dipukul, dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar, ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. Sebaliknya, ia ingin tampak percaya diri, gagah, dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidak berdayaannya. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. Kenyataannya juga menunjukkan, menjadi perempuan pun tidaklah mudah. Stereotip perempuan yang pasif, emosional, dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Karenanya, jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois, tidak rasional dan agresif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan.

Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja.

Dari penjelasan tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa gender merupakan pembagian sifat, peran, kedudukan, dan tugas laki-laki dan perempuan sebagai hasil konstruksi social budaya masyarakat berdasarkan norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat. Gender bukan kodrat atau takdir Tuhan, tetapi gender berkaitan dengan keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan bagaimana seharusnya perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada.

Dari uraian di atas bahwa permasalah perbedaan gender dalam dunia pendidikan tidak dapat dipisahkan, karena berhubungan erat satu dengan lainnya. Oleh sebab itulah untuk memperjelas pembelajaran tentang Pendidikan dan Kesetaraan Gender berikut kami sajikan materi secara lengkap.

  1. 23_Model Kurikulum Kesetaraan Gender SMA.ZIP
  2. 23a Kajian konsep-23.pdf
  3. 23b Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender.pdf 
  4. SILABUS Sejarah.doc
  5. 23c1. SILABUS agama Islam.doc
  6. 23c1. SILABUS agama Islam.doc
  7. 23c2. Silabus PPKn.doc
  8. 23c3. SILABUS Bahasa Ind.doc
  9. 23c4. SILABUS Fisika.doc
  10. 23c5. SILABUS Biologi.doc 23c6.
  11. 23c7. SILABUS SENI BUDAYA.doc
  12. 23c8. SILABUS Pend Jas Kes.doc
  13. 23c9. SILABUS Akuntasi.doc
  14. 23c10. SILABUS Sosiologi.doc
  15. 23d5. RPP Biologi.doc 23d3. RPP Bahasa Ind.doc 
  16. 23d7. RPP Seni Rupa.doc 23d6. RPP Sejarah.doc
  17. 23d9. RPP Akuntansi.doc 23d8. RPP Pend Jas Kes.doc
  18. 23d10. RPP Sosiologi.doc 23d1. RPP Agama Islam.doc 

Demikian ulasan singkat tentang materi Pendidikan dan Kesetaraan Gender semoga akan membawa bapak dan ibu guru betul-betul memahami hal tersebut.

Materi penting lainnya:

Kurang dan lebihnya mohon maaf.

Subscribe to receive free email updates: